Perhatian manusia anjlok ke 47 detik. Psikolog Gloria Mark bilang AI bikin otak malas dan kesepian makin naik. Ini solusinya.
Pernah ngerasa susah fokus baca artikel panjang? Atau lebih milih nanya ChatGPT daripada mikir sendiri? Kamu nggak sendirian, kok.
Psikolog Gloria Mark dari UC Irvine udah nyelidik ini selama 30 tahun. Hasilnya? Perhatian kita anjlok banget: dari 2,5 menit di 2003, tinggal 47 detik di 2020.
Lebih parah, switch-switch antar aplikasi itu bikin stres naik drastis. Mark bilang ada korelasi langsung lho antara pindah-pindah perhatian sama detak jantung yang makin kencang.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Nah, AI chatbot kaya ChatGPT, Claude, sama Gemini malah nambah masalah. Waktu kita suruh AI nulis atau nerangin sesuatu, otak kita nggak lagi "ngolah dalam" — dan itu kunci buat bener-bener paham.
Mark kasih perumpamaan: otot yang nggak dipakai bakal atrofi. Otak juga begitu. Makin sering delegasi mikir ke AI, makin lemah kemampuan kita nilai informasi dan bedain hoax.
Bukan cuma itu. AI companion yang cuma nurut-nurut aja bikin kita males bangun relasi beneran. Padahal hubungan manusia butuh effort, waktu, dan ngerti satu sama lain.
Survei bilang emotional intelligence kita udah turun. Kalau terus-terusan gini, Mark bilang kesepian, bosenan, dan rasa nggak ada tujuan hidup bakal makin gede.
Tapi Mark bukan tipe yang bilang "buang HP-mu!". Ia cuma bilang: sengaja-kasih effort. Baca buku beneran, jangan cuma baca ringkasannya.
Ketemu temen langsung, jangan cuma chat. Ke tempat baru? Coba matiin GPS, pakai insting. Makin susah tugasnya, makin gede reward-nya.
Intinya: teknologi oke buat dipakai, tapi jangan sampai kita jadi pengangguran kognitif. Ubah rutinitas, latih otak, dan ingat — yang bikin hidup berarti itu effort, bukan shortcut.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari MIT Technology Review.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→