Wabah hantavirus melanda kapal pesiar MV Hondius. Tiga penumpang meninggal, tapi ahli bilang ini bukan ancaman pandemi seperti COVID-19.
Baru-baru ini ada kejadian menyeramkan di kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda. Delapan penumpang terkena hantavirus, virus langka yang biasanya ditularkan oleh tikus. Tiga di antaranya sudah meninggal dunia.
Kasus pertama mulai terlihat pada 6 April lalu. Seorang pria mengalami gejala pernapasan yang parah dan meninggal lima hari kemudian. Istrinya juga ikut sakit dan meninggal saat dalam perjalanan ke Johannesburg pada 26 April.
Korban ketiga meninggal pada 2 Mei setelah mengembangkan gejala pada 28 April. Empat penumpang lainnya dievakuasi darurat ke berbagai rumah sakit. Ada juga satu kasus di Zurich, Swiss, dari penumpang yang turun lebih awal di Saint Helena.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Virus yang menyerang mereka adalah Andes virus, salah satu jenis hantavirus yang unik. Berbeda dengan jenis lainnya, Andes virus ini bisa menular antarmanusia. Tapi tenang, penularannya hanya terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan, bukan lewat udara.
Ahli kesehatan bilang ini bukan ancaman pandemi baru. WHO menekankan bahwa penyebaran butuh kontak sangat dekat, seperti pasangan tidur serumah atau tenaga medis yang merawat pasien. Situasi di kapal pesiar itu khusus karena ruang terbatas dan interaksi intens antarpenumpang.
Semua penumpang yang tersisa diminta tetap di kabin masing-masing selama perjalanan. Tim dokter dari WHO dan European Center for Disease Prevention and Control sudah naik ke kapal untuk memeriksa kondisi kesehatan semua orang di atas.
Kabin-kabin kapal sedang didisinfeksi menyeluruh. Sementara itu, penumpang diminta memakai masker medis kalau keluar dari kamar. Moral di kapal dilaporkan meningkat sejak kapal menuju Canary Islands untuk sandar.
Andes virus memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, sekitar enam minggu. Itu sebabnya tim medis masih memantau kemungkinan munculnya kasus baru di kemudian hari meski sampai sekarang belum ada gejala tambahan.
Sayangnya, sampai sekarang belum ada obat antivirus spesifik atau vaksin untuk hantavirus. Satu-satunya cara adalah perawatan intensif di rumah sakit sesegera mungkin setelah gejala muncul, terutama untuk mendukung fungsi paru dan jantung.
Pasangan yang meninggal sebelumnya sempat melakukan trip birdwatching di Argentina, Chile, dan Uruguay. Mereka kemungkinan terpapar dari tikus pembawa Andes virus di sana saat menjelajah alam terbuka.
WHO sekarang lagi kerja sama dengan otoritas Argentina untuk melacak jejak perjalanan pasangan tersebut. Tujuannya untuk mengidentifikasi sumber paparan awal dan mencegah penularan lebih lanjut di darat.
Kapal sedang menuju Tenerife, Canary Islands, dan dijadwalkan sandar pada 10 Mei. Pemerintah Spanyol sudah bersiap dengan protokol khusus untuk memastikan risiko ke warga lokal minimal dan penumpang diperlakukan dengan manusiawi.
Di Amerika Serikat, lima negara bagian sedang memantau warga negaranya yang turun dari kapal tersebut. Meski ada pemotongan dana ke CDC oleh pemerintah Trump, WHO tetap berbagi data teknis dengan pihak AS.
Ilmuwan sekarang sedang mengurutkan genom lengkap virus dari sampel pasien. Mereka ingin tahu apakah strain ini berbeda dari kasus sebelumnya. So far, belum ditemukan mutasi yang mengkhawatirkan.
Praktisnya, kamu nggak perlu panik kalau nggak ada rencana ke daerah endemik atau kontak dekat dengan penderita. Tapi ini pengingat bahwa kesehatan global itu rapuh dan kita perlu waspada, bukan cemas berlebihan. Jaga kebersihan, hindari kontak dengan hewan pengerat liar, dan konsultasi dokter kalau ada gejala mencurigakan setelah traveling.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari MIT Technology Review.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


