Studi mengejutkan: pria lebih sering pakai 'vocal fry' daripada wanita. Stereotype suara wanita ternyata salah kaprah.

Kamu pernah dengar suara 'creaky' di akhir kalimat? Itu disebut vocal fry, dan biasanya kita kaitin sama cewek-cewek muda. Tapi ternyata kita salah kaprah!

Jeanne Brown, mahasiswi McGill University, nemu fakta mengejutkan dalam penelitiannya. Pria justru lebih sering pakai vocal fry daripada wanita.

Vocal fry itu register suara terendah manusia, yang lainnya modal dan falsetto. Suara ini muncul gara-gara pita suera kendur, getaran ngaco, dan bunyi retak-retak.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Frekuensi fundamental vocal fry sekitar 70 Hz. Rentang terendar pendengaran manusia itu 20 Hz, jadi masih bisa didenger sama telinga kita.

Penelitian Brown dipresentasikan di pertemuan Acoustical Society of America di Philadelphia minggu lalu. Hasilnya bikin kita mikir ulang stereotype gender.

Mengapa kita pikir vocal fry itu milik wanita? Brown bilang soalnya persepsi kita yang ngaruh. Karena itu, kita cendera dengerin lebih sering di kalimat wanita.

Stereotype gender dalam bahasa ternyata lebih kuat dari kenyataan suara yang sebenarnya. Ini contoh gimana bias sosial ngaruh ke persepsi kita.

Jadi, kalau kamu dengar seseorang pakai vocal fry, jangan langsung asumsi itu cewek. Bisa jadi itu cowok lho! Penting buat kita sadar stereotype yang nggak akurat.

Takeaway praktis: jangan cepat menyimpulkan tentang orang dari cara bicaranya. Suara 'creaky' tidak punya gender, dan stereotype seringkali salah banget.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Ars Technica

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari Ars Technica.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.

Baca artikel asli di Ars Technica
#Technology#ArsTechnica#rss