NASA pengen produksi satelit massal biar sains di luar angkasa makin banyak. Tapi kenapa misi teleskop malah berkurang? Simak fakta lengkapnya!
Kamu pernah nggak sih mikir, kenapa NASA yang punya teknologi canggih malah makin jarang ngeluncurin teleskop atau misi sains ke planet? Padahal sekarang akses ke luar angkasa makin gampang, berkat roket komersial kayak Falcon 9 milik SpaceX yang bisa dipakai ulang.
Nah, si kepala ilmu NASA ini malah bilang, dia pengen banget punya satelit yang diproduksi massal. Bayangin, dia bilang, 'I'll buy 10 of those' alias pengen beli 10 satelit sekaligus. Gila kan? Jadi intinya, dia pengen sains di luar angkasa makin banyak dan gampang dijalankan.
Tapi kenapa misi sains NASA malah berkurang? Ternyata bukan soal duit doang. Budget sains NASA tahun ini sekitar $7,25 miliar, hampir sama kayak tahun 2000 kalau dihitung inflasi. Jadi masalahnya bukan di dana, tapi mungkin di prioritas dan strategi.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Sejak kepala NASA Jared Isaacman pegang kendali, fokusnya lebih ke penerbangan manusia dan misi ke Bulan. Contohnya, misi Artemis II yang sukses banget bawa empat astronot keliling Bulan bulan lalu. Dia juga batalin rencana bangun stasiun luar angkasa di orbit Bulan, dan milih bikin pangkalan di permukaan Bulan.
Jadi, walaupun ada peluang besar buat misi sains, NASA lagi ngatur ulang strategi biar lebih fokus ke eksplorasi manusia dulu. Tapi kepala ilmunya tetep pengen banget nambahin satelit massal buat dorong riset sains di luar angkasa. Keren banget kan?
Intinya, buat kamu yang suka teknologi luar angkasa, ini jadi sinyal kalau masa depan eksplorasi bakal makin seru dengan satelit massal dan misi manusia ke Bulan yang makin gila. Jadi siap-siap aja lihat perkembangan teknologi antariksa yang makin kece!
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
Ars Technica
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari Ars Technica.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.
Baca artikel asli di Ars Technica→


