Pelajari bagaimana AI bisa jadi superintelligent dengan kerja bareng. Siapin dirimu untuk masa depan teknologi!
Kamu pernah bayangin nggak sih, gimana rasanya kalau sistem kesehatan kita dikelola oleh banyak AI? Satu AI yang ngurus penilaian gejala, satu lagi yang ngatur jadwal, dan yang lainnya ngurus asuransi dan apotek. Masing-masing dari mereka jago di bidangnya, tapi sayangnya, mereka masih belum bisa kerja bareng tanpa campur tangan manusia. Jadi, gimana caranya supaya mereka bisa kolaborasi? Nah, ini yang lagi dikejar oleh para ahli.
Vijoy Pandey, seorang VP di Outshift by Cisco, bilang kalau yang kurang dari sistem ini adalah 'jaringan penghubung' yang bikin AI-AI ini bisa jadi satu tim. Dia menyebutnya 'Internet of Cognition'. Dengan tambahan lapisan semantik ini, AI dari berbagai bidang bisa saling kerja sama dan 'berpikir' bareng. Jadi, mereka bisa ngatur perawatan pasien dengan lebih efektif.
Selama ini, industri AI lebih fokus ke pertumbuhan. Mereka bikin model yang lebih besar dan lebih canggih dengan data yang lebih banyak. Tapi, untuk bisa bikin AI yang bisa ngatasi masalah secara kolektif, mereka harus mulai berpikir horizontal, bukan cuma vertikal. Pandey bilang, sistem multi-agent udah mulai dieksplorasi di berbagai bidang, tapi hasilnya masih kurang memuaskan.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Satu studi menunjukkan bahwa sistem multi-agent yang ada sekarang punya tingkat kegagalan antara 41% sampai 87%. Jadi, meskipun AI bisa kerja sama dalam tugas yang udah mereka lihat sebelumnya, mereka belum bisa punya tujuan yang sama dan berpikir untuk menyelesaikan masalah baru. Ini semua karena masalah arsitektur, bukan karena cara mereka diprogram.
Untuk mengatasi ini, Outshift bikin lapisan konektivitas yang disebut AGNTCY. Ini adalah proyek open-source yang memungkinkan AI dari berbagai sistem untuk saling menemukan dan bertukar pesan. Dengan AGNTCY, AI bisa menyelaraskan tujuan, berbagi pengetahuan, dan membuat keputusan bersama. Pandey membandingkan proses ini dengan bagaimana manusia belajar untuk berbagi tujuan dan membangun pengetahuan bersama.
Jadi, untuk bikin AI bisa kerja bareng, ada tiga pilar penting yang harus dipenuhi: pertama, ada protokol keadaan kognisi yang bikin AI bisa sepakat tentang tujuan sebelum bertindak. Kedua, ada 'kain kognisi' yang jadi memori bersama supaya AI bisa belajar dari pengalaman sebelumnya. Ketiga, ada penguat kognisi yang bikin proses berpikir jadi lebih cepat dan aman.
Tapi, ada juga risiko yang harus diperhatikan, seperti delegasi yang tidak diinginkan atau akses berlebihan ke data. Jadi, penting banget untuk punya kontrol yang tepat agar AI bisa bertindak sesuai dengan tujuan awalnya. Misalnya, dalam sistem kesehatan, AI yang disuruh untuk merangkum data pasien harus bisa memastikan bahwa semua yang dilakukannya sesuai dengan tugas yang diberikan.
Pandey juga bilang, perusahaan harus mulai eksperimen dengan satu alur kerja yang melibatkan beberapa tim dan butuh campur tangan manusia. Dengan cara ini, mereka bisa mulai mengukur seberapa efektif AI dalam meningkatkan kinerja satu sama lain. Ini adalah momen yang tepat untuk mulai membangun sistem yang lebih canggih dan kolaboratif.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari MIT Technology Review.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


