Kacamata pintar Anduril & Meta untuk militer bisa kontrol drone cuma dengan mata dan suara. Apakah ini masa depan pertempuran modern?
Kamu ngira kacamata pintar cuma buat nonton film atau main game? Nggak deh! Anduril, perusahaan tech pertahanan, lagi kerjasama bareng Meta buat bikin kacamata augmented-reality (AR) khusus buat militer. Gede banget potensinya nih!
Yang bikin serius, kacamata ini bisa kamu pake buat ngincar dan kontrol drone cuma dengan gerakan mata dan perintah suara. Bayangin aja, prajurit tingin lihat sasaran, bilang 'serang', dan drone langsung jalan. Siap-siap masuk era cyborg!
Anduril punya dua proyek lagi di jalur ini. Pertama, Soldier Born Mission Command (SBMC) yang dapet kontrak $159 juta dari militer. Kedua, EagleEye, helmet-headset combo yang dibiayai sendiri oleh Anduril. Meski militer nggak minta yang kedua, Anduril yakin mereka bakal tertarik nanti.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Kamu pasti tanya, 'Mengapa perlu teknologi kayak gini?' Jawabannya sederhana: optimalkan 'manusia sebagai sistem senjata.' Tujuannya biar prajurit dan drone bisa lihat bareng, sharing info, dan ngambil keputusan seperti satu kesatuan.
Tapi ada masalah besar, lho. Prajurit udah kewalahan dengan informasi. Kalau kacamata ini minta lebih banyak perhatian daripada yang diselamatkan, mereka bakal tolak! Plus, sistem yang bisa identifikasi ancaman dan sarankan serangan bakal bawa resiko kesalahan yang gede banget.
Tantangan teknisnya juga nggak main-main. Kacamata harus bisa survive debu, ledakan, dan koneksi terbatas. Bahkan, militer bakal masuk produksi baru tahun 2028 kalau mereka memilih salah satu! Sampai sekarang, komponennya baru mulai datang bulan Maret lalu.
Untuk operasinya, kacamata ini bakal overlay informasi di pandangan prajurit. Bisa jadi cuma kompas sederhana atau peta lengkap plus info drone di sekitar. Bahkan ada AI yang bisa kenali target seperti truk!
Prajurit bisa ngomong ke sistem pakai bahasa biasa. Misalnya minta evakuasi korban atau rencana rute yang aman. System pake bahasa besar (LLM) dari Google Gemini, Meta Llama, atau bahkan Anthropic Claude untuk ngubah bicara jadi perintah.
Yang bikin serius, sistem ini bisa multitask! Prajurit bisa kirim drone untuk surveil area, bilang 'balik kalau nemu artileri,' lalu sistem bakusaran aksi selanjutnya. Semuanya butuh persetujuan atasan, tentunya.
Jonathan Wong, mantan Marinir AS sekarang peneliti RAND, bilang ini berbahaya. Dia pernah radio tiga channel sekaligus dan langsung bingung! 'Berapa banyak bandwidth mental yang kamu punya buat sadar lingkungan dan pakai teknologi ini?' tanya dia.
Anduril nggak sendirian di kompetisi ini. Rivet dapet $195 juta, Elbit $120 juta. Microsoft bahkan udah kalah peran sebelumnya gara-gara kesalahan testing yang bisa sia-sia $22 miliar!
Yang menarik, meski konflik dulu, Anduril dan Meta sekarang kembali bekerja bareng di AR. Ini setelah Zuckerberg juga jadi lebih friendly dengan pemerintahan Trump kedua.
Tapi tantangan masih banyak. Kacamata harus bekerja di lingkungan berdebu, ledakan, dan asap. Baterainya harus kuat tapi nggak bikin beban berat. Dan harus jalan tanpa koneksi 5G yang merata.
Intinya, teknologi ini bisa ubah cara perang, tapi ada banyak resiko dan tantangan. Apakah prajurit siap untuk jadi cyborg di medan perang? Itu pertanyaan besar yang butuh jawaban!
AI Updates lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review AI
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
AI Updates update dari MIT Technology Review AI.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review AI.
Baca artikel asli di MIT Technology Review AI→


